SBY dan Tebar Pesona
Dadan Hamdani
Warga Negara
Indonesia No. KTP 32.75.07.1004.13403
Tiba-tiba “celetukan” Megawati rupanya cukup mengagetkan banyak pihak. Tidak terkecuali juga lingkungan terdekat orang nomer satu di republik ini, lantas saja Andi Malaranggeng seolah memberikan tanggapannya. Bahwa yang bersangkutan seharusnya lebih jernih memandang persoalan.
Lama tidak terdengar kabarnya, bahkan ketika masih berkuasa pun Ketua Umum PDI P ini yang sempat menjadi Presiden Republik Indonesia yang ke lima ini jarang sekali membuat sensasi, terbiasa dengan gaya politik “diam itu emas”nya itu seolah sudah menjadi jurus handalan politiknya. Belum lagi bahasa senyum dan lambaian tangannya yang seolah mengarah pada “tebar senyum” dan “tebar lambaian”. Mungkin setidaknya bukan tebar pesona, seperti dalam “celetukannya” itu.
Mungkin memang ada benarnya dan SBY sendiri sepatutnya tidak perlu menjadi gusar, karena kegusaran SBY bisa sangat mungkin justru menjadi pembenaran bahwa memang pemerintahan ini baru sebatas bekerja pada wilayah “tebar pesona” dan baru sedikit sekali yang terlihat memberikan kontribusinya.
Bahwa pemerintahan ini banyak sekali mengalami terjangan yang bertubi-tubi sejak awal mula. Tsunami dan berbagai rentetan musibah demi musibah yang mengharusnya pemerintahan ini menyitakan banyak ruang dan perhatiannya bagi penyelesaian persoalan, belum lagi usai musibah satu, beruntun pula musibah lainnya susul menyusul.
tapi persoalannya memang bukan menyerahkannya pada kehendak nasib, Lumpur Lapindo misalnya, adalah bukti teramat nyata bahwa ada persoalan pada perangkat hukum pada pemerintahan ini, sehingga kecelakaan operasional sebuah persero justru menjadi tanggung jawab masyarakat dan pemerintah.
Ini tentu refleksi bahwa pemerintah tidak cergas dan tangkas menempatkan dirinya sehingga memberikan peluang yang memungkinkan melahirkan banyak persoalan lanjutan. Cara berpikir dan bereaksi dan bertindak pemerintah justru lamban disaat dibutuhkan percepatan dan sangat reaksioner dan terlalu grusuh justru disaat sepertinya dibutuhkan ketenangan bertindak. Seperti seharusnya menegaskan sikapnya untuk menunggu proses Pilkada yang dinilai masyarakat memiliki banyak kecurangan. Justru terlalu cepat diberikan lampu hijau untuk lanjut.
Disisi lain tindakan yang sepatutnya dijadikan prioritas nomer enam belas justru saat ini hadir menjadi PP seperti misalnya PP 37 tahun 2006 ini. Yang seolah menjilat liur yang sudah keluar. Ini sama halnya mendelegitimasikan dirinya ditengah angka kemiskinan yang justru membesar. Mungkin memprihatinkan bagi kita karena bukan saja paradoks tapi juga menyesatkan dan mendorong terciptanya ruang koruptif yang lebih tidak terbatas.
Politik Wacana Presiden SBY
Keluarnya PP 37 2006 sepertinya makin mempertegas bahwa SBY memainkan jurus politik wacana. Jadi keluarnya sebuah kebijakan justru akan menjadi perdebatan publik. Dan bukan jawaban atas banyak pesoalan. Karena justru akan memberikan pertanyaan dari masyarakat, jika kita memang berupaya focus untuk mengurangi kemiskinan, dan memberantas korupsi bagaimana mungkin keluarnya PP yang justru memberikan ruang akan semakin lebarnya kecemburuan antara eliat dan masyarakat.
Yang perlu disesali adalah berapa lama waktu untuk mampu keluar dari ruang perdebatan Apa sih maksudnya SBY? Seringkali lontaran ini keluar dari banyak kalangan sehingga mungkin sekali lagi dengan memakai mulut Megawati Soekarno Puteri. Bahwa SBY jangan hanya Tebar Pesona.
Setidaknya ada beberapa point yang perlu menjadi perhatian, pertama bahwa ada gap antara harapan dan kenyataan yang justru semakin diperlihatkan oleh sepak terjang pemerintahan SBY termasuk yang lebih terpenting adalah SBY dan dirinya sendiri.
Yang kedua menjadi berkurangnya ruang sensitifitas Penguasa untuk mencoba melakukan mana prioritas pekerjaan dan mana wacana yang mestinya keluar dan mana yang seharusnya tidak perlu keluar. Ini tentu penting untuk menghindari biaya politik, waktu tempat dan ruang, sehingga energi masyarakat kita dimantapkan untuk focus mengejar mana yang menjadi prioritas yang sesungguhnya.
Ada
sebuah irama, birama, melodi yang diatur satu sama lainnya. Kapan ia harus berbunyi dan kapan pula ia harus berirama sehingga orchestrasi politik wacana tidak sekedar menjadi wacana politik yang berbalik menjadi boomerang dan asal tuduhan “Tebar Pesona”
Tiba-tiba Aa Gym, Kiai yang kondang tersebut menikah dan berpoligami. Tiba-tiba juga tidak kalah cepatnya SBY bereaksi untuk membangun wacana anti poligami. Bukan hanya mendorong pemerintah menciptakan diskursus yang tidak produktif, melainkan juga tentu saja pemerintah masuk pada urusan yang terlalu kecil untuk sekedar mengurusi urusan rumah tangga warga Negara. Dan hasilnya polemic tetap sebuah polemik tanpa ada juntrungaannya. Dan kalau memakai bahasa anak muda saat ini. Capee deueh!!!
SBY bukan Presiden Musibah
Peristiwa demi peristiwa yang tidak kecil sejadinya menjadikan SBY sebagai Presiden musibah. Presiden yang seakan-akan kerjanya memang menangani musibah dan lagi-lagi musibah, mulai dari rentetan peristiwa. Terutama yang skala musibahnya boleh dikatakan sangat memprihatinkan dan mendapatkan perhatian dunia, Tsunami Aceh, Lumpur Lapindo, dan yang hamper membuat kita terkekeh jenaka ditengah kegetiran adalah Kelaparannya Jamaah Haji
Indonesia dan dilanjuti sebagai pengawal musibah lainnya di tahun baru 2007 ini dengan hilangnya sebuah pesawat Adam Air yang keberadaannya baru ditemukan dalam bentuk puing-puing petunjuk.
Baru sebuah puzzle, baru berbentuk sepihan, puing-puing yang perlu dicari dan dipungut satu persatu jangan sampai tercipta dalam benak masyarakat bahwa pemerintahan ini membawa takdir ironi, yang memperlihatkan wajah nasib bangsa ini dengan wajah dan watak kepemimpinan yang semakin hari semakin memberikan tanda Tanya yang tak berujung. Persis seperti kita mencari satu persatu puzzle yang berupa serpihan nasib kita. What next?
Menyadarkan Permainan Teka-teki
Ala SBY
Jurus, pola, rumusan kebijakan SBY yang seolah memperlihatkan permainan teka-teki. Seharusnya justru dijawab oleh SBY sendiri untuk memantapkan visinya dalam mengurangi pengangguran, memperkecil ruang disparitas dan kesenjangan sosial ekonomi, dan menghadirkan harapan disela-sela hadirnya musibah demi musibah. Sehingga energi bukan hanya tidak terbuang percuma juga termanfaatkan secara sangat pada tempatnya.
Celetukan mantan presiden RI berjenis kelamin wanita ini ternyata memang bukan celetukan main-main. Setidaknya pembacaaan kita bahwa seorang Megawati saja harus keluar dari sarang “diam itu emas” nya. Hanya untuk sekedar membuat sebuah pernyataan SBY jangan Tebar Pesona! Ini menjadi serius lantaran kita tentu mulai juga sama-sama greget-nya dengan
gaya SBY. Dan sekaligus tentu saja menegaskan kondisi makin meluasnya ketidaksabaran yang dengan sangat pintar dibaca oleh Megawati, tentu hitung-hitung untuk latihan bicara saat 2009 nanti menjelang mungkin.
Ketidak tegasan menjadi sangat kentara dimana-mana, Ambiguitas seolah menjadi santapan pers karena pola kebijakan dan rumusan kebijakan justru memperlihatkan pembiaran atas wacana. Dan tidak ada habis-habisnya energi kita di arahkan untuk berwacana atas wacana itu sendiri. Persoalan poligami lah, tiba-tiba menjadi urusan SBY.
Pola-pola seperti ini solah menjadi pola dan patron untuk tidak menuliskannya sebagai jurus SBY. Kebobrokan Pilkada Banten misalnya, seharusnya sebagai pemegang mandat Rakyat
Indonesia secara menyeluruh ini mampu memberikan ketegasannya. Karena melihat begitu bobrok dan curangnya Pilkada di Banten pada waktunya akan menjadi Bom Waktu sendiri bagi SBY dikarenakan what next jika saatnya Bom waktu itu meledak?
Dan seolah kita-masyarakat dibiarkan oleh sebuah premainan musim teka-teki atas
gaya dan ambiguitas SBY dalam banyak hal.
Jika Tidak Sekarang Kapan lagi, Jika tidak dari SBY siapa lagi
Kita sangat mendamba begitu dalamnya memiliki pemimpin sekaliber SBY yang kemampuan dan kapabilitas pribadinya secara personal mungkin lebih sedikit lebih baik dari beberapa Pendahulunya. Tapi persoalannya adalah memang bukan Pemimpin yang tebar pesona yang kita inginkan, melainkan Presiden yang bertindak.
Oleh karena itu rakyat membutuhkan kerja kongkrit,
Indonesia ini bukan permainan teka-teki untuk sekedar menunggu jawaban dari mentor yang memberikan soal. Tapi bangsa kita ini membutuhkan mentor yang justru langsung sigap memberikan jawaban. Dan pada kapasitas itulah saya kira rakyat menunggu jawaban-jawaban, lugas tegas dan langsung.
Orchestrasi alunan wacana yang ditabuh SBY justru kurang memberikan jawaban memuaskan dan selalu saja berkelindan dengan lahirnya wacana baru yang tidak jelas juntrungannya lagi-lagi meminjam bahasa anak muda capee deueh!!!